TRAVEL – Apa sebenarnya yang orang dapatkan ketika mendaki gunung? Bukankah
tidak jauh dari tubuh yang letih dan badan yang kotor? Memikirkan bagaimana
susahnya melangkah ke puncak saja sudah bisa membuat lelah. Mungkin pikiran itu
pernah terlintas di benak banyak orang—tentunya tidak bagi para pendaki.
Saya pun pernah berpikir sesuatu yang tak jauh berbeda. Puncak
gunung memang indah, namun untuk mencapai sesuatu yang indah selalu dibutuhkan
perjuangan yang tak mudah. Bukan bermaksud lebay, tapi bagi
sebagian orang seperti saya, keputusan untuk mendaki gunung bukan sesuatu yang
bisa diambil begitu saja.
Tapi… kali ini berbeda. Keinginan untuk melihat pemandangan dari
atas gunung ternyata muncul begitu saja, tanpa banyak pertimbangan dan waktu
lama. Mungkin benar seperti yang sering orang Sunda katakan: sesuatu yang
direncana justru jarang terjadi, sedangkan yang tak direncana sering kali
benar-benar terjadi. Saya tidak tahu bagaimana asal-usul kalimat ini
muncul:)
Sekitar dua bulan lalu, saya bersama teman pergi ke Gunung
Papandayan. Tidak sampai ngecamp, hanya berangkat pagi dan
pulang ketika sore hari—atau, seperti orang-orang bilang, tek-tokan. Jarak
menuju destinasinya dekat, hanya sekitar 15 kilometer dari rumah. Medannya juga
terbilang cukup mudah, sangat beginner friendly. Bahkan
ibu-ibu juga sanggup mendaki ke sana. Mungkin karena tidak ingin kalah dari
ibu-ibu, saya memutuskan untuk mendaki Gunung Papandayan—lagi.
Sedikit Gambaran Tentang Gunung Papandayan
Gunung Papandayan terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten
Garut, Jawa Barat. Kita hanya perlu mencari Alun-Alun Cisurupan, kemudian ambil
arah lurus di perempatan dekat alun-alun dari arah Garut kota. Setelah memasuki
Jl. Kawah Papandayan, kita hanya perlu lurus terus ke atas sampai terminal atau
kawasan TWA (Taman Wisata Alam) Papandayan. Tenang saja, Google Maps
bisa membantu kita untuk lebih jelasnya.
Sebelum memasuki TWA, kita harus menyiapkan uang. Tapi jangan
khawatir, harga yang dikeluarkan tidak mahal, apalagi untuk pengunjung
domestik. Berdasarkan pengalaman pergi kemarin, saya menghabiskan sekitar Rp.
100.000 untuk dua orang dan satu motor (Rp. 20.000 per motor dan Rp.40.000 per
orang).
Setelah melewati bagian tiket, kita bisa langsung masuk kawasan
TWA Papandayan. Jika kita ingin mendaki atau berkemah, perjalanan bisa dimulai
dari sini. Namun jika hanya ingin berwisata, kawasan TWA juga menyediakan
banyak tempat untuk dikunjungi, seperti pemandian air panas,
penginapan, taman bunga, dan spot indah lainnya untuk
berswafoto.
Kita juga bisa mendaki sampai kawah atau Hutan Mati, menikmati pemandangan, mengabadikan momen, dan kembali turun ke terminal. Track-nya pun tidak terlalu sulit. Terdapat banyak anak tangga sampai kawasan kawah dan Hutan Mati. Jika takut merasa kelelahan di tengah jalan, jangan khawatir, ada juga jasa ojek yang siap membawa kita mendaki atau menuruni gunung.
![]() |
| Kawah Papandayan (source pic: koleksi pribadi) |
Papandayan sekarang ternyata sedikit berbeda dengan beberapa tahun
lalu. Saya pernah mendaki gunung ini ketika SMP—saya lupa tahun berapa
tepatnya, tapi mungkin itu sekitar 10 tahunan ke belakang. Tidak banyak yang
berubah. Hanya saja sekarang destinasi yang disuguhkan bertambah banyak. Jalan
untuk pendaki juga mudah diakses dengan adanya anak tangga dan petunjuk jalan. Samar-samar
dalam ingatan, sepertinya dahulu anak tangganya tidak sebanyak sekarang.
Yang paling menonjol adalah jumlah wisatawan. Dari dulu Papandayan
memang sudah sangat ramai. Tapi saat ini, Gunung Papandayan menjadi lebih lebih
lebih ramai lagi. Jangan takut jika hanya pergi sendiri ataupun berdua. Kita
akan menemukan teman perjalanan di sana.
Karena dahulu tempat ini belum seramai sekarang, sepertinya saya
juga tidak membayar untuk memasuki kawasan TWA Papandayan. Mungkin karena
ketika itu saya berserta rombongan masih kecil, atau mungkin karena petugasnya
sedang berbaik hati. Yang jelas, dulu saya dan teman-teman tidak mengeluarkan
uang untuk mendaki.
Apa yang Didapatkan dari Mendaki?
Saya rasa setiap orang selalu punya cerita dalam tiap
petualangannya. Gunung tidak hanya menjadi bentangan yang menyajikan keindahan
alam bagi mereka yang memerhatikannya, tetapi juga memberikan pembelajaran yang
berbeda kepada setiap insannya.
Saya sudah lama tinggal di rumah dan jarang sekali bertemu dengan
orang lain. Perjalanan mendaki membuat saya belajar. Sering kali, pertemuan
dengan orang baru—bahkan saat kita tidak bertegur sapa sekalipun—bisa membawa
pelajaran yang berharga. Berada di tengah-tengah orang asing menjadikan saya
sadar pentingnya untuk menjadi diri sendiri. Ada saatnya di mana kita harus
atau dipaksa tampil berbeda dengan yang lain. Dan saat seperti itu tiba, ternyata
tidak apa-apa untuk menjadi berbeda.
Selain itu, bagi saya yang merupakan seorang amatir, mendaki
ternyata bisa menjadi upaya untuk mengurangi rasa penat. Itu mungkin memberi
efek lelah—bahkan sangat lelah—bagi tubuh secara fisik. Namun, langkah demi
langkah menuju puncak juga bisa memberikan kesegaran. Pemandangan indah yang
asri, sapaan hangat dari para pendaki lain, obrolan yang menemani perjalanan,
juga angin gunung yang segar, bisa membuat kita melupakan sejenak lelahnya
realitas yang sedang dijalani, apakah itu beban kerja yang menumpuk, konflik
dengan atasan, ujian yang akan segera tiba, atau masalah-masalah lain yang
tentunya akan beragam.
Setelah perjalanan mendaki ini, saya terus dihantui satu PR yang
begitu membuat penasaran: bagaimana sejarah Gunung Papandayan? Kapan Gunung
Papandayan menjadi destinasi wisata dan bagaimana keadaan Gunung Papandayan di
masa Belanda dan Jepang? Saya harap bisa segera menemukan jawabannya. Saat
riset saya tersebut telah berhasil, tentu saya akan segera membagikannya di
sini.
Terima kasih telah membaca, see you in the next trip!


0 Comments