BOOK – Kehidupan di era modern ini ditandai dengan keterlibatan manusia yang semakin mendalam di dunia maya. Kita sibuk menghubungkan diri satu
sama lain tanpa batas spasial. Dunia seolah tidak ada sekat, kita juga kadang hidup tanpa privasi. Kabar baiknya, kita bisa terkoneksi dengan dunia
dan berkembang dengan banyak cara. Kabar buruknya, kita sering lupa untuk hidup
saat ini, di sini—di tempat kaki kita berpijak secara nyata.
Banyak studi menjelaskan efek negatif dari kecanduan gadget. Ini
termasuk penyalahguaan fungsi gawai, baik untuk bermain game, berselancar
di internet, scrolling media sosial, dan berbagai aktivitas daring
lainnya. Media sosial pun memegang peranan penting dalam kehidupan kaum dewas—bahkan
remaja dan anak-anak—abad ini.
Banyak orang sibuk menampilkan versi terbaik dirinya di internet.
Sebagian orang sibuk terkesima dengan kehidupan orang lain. Sebagian lain
mungkin gabut mencari hiburan di dunia daring. Namun, jangan lupakan juga
orang-orang yang datang untuk bekerja dan mengambil manfaat dari kehidupan
virtual ini. Seperti dunia yang penuh dualisme, media sosial pun bisa berdampak
positif ataupun negaitf.
Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi efek negatif dari
kehidupan online ini, supaya kita tidak terlena dan kehilangan waktu
dengan sia-sia? Satu kutipan dalam buku Going Offline karya Desi Anwar
mungkin bisa sedikit membantu.
Penulis buku ini mengatakan kita harus punya “batas.” Karena
internet adalah dunia nan luas tanpa batas, maka penting kiranya untuk
mengetahui apa tujuan kita datang ke dunia maya. Jika kita ingin mencari
informasi, maka cukup lakukan itu. Jika kita ingin mencari inspirasi, lakukan
seperti tujuan awal. Jika kita harus bekerja melalui dunia virtual, maka
fokuslah pada pekerjaan dan hindari hal-hal di luar itu. Dengan demikian, kita
bisa mengupayakan untuk tidak pergi lebih jauh di batasnya.
Buku dengan tebal 248 halaman ini tidak hanya menjelaskan tentang
batasan dalam berselancar di internet. Sesuai judulnya, buku ini mengajak
pembaca untuk hadir secara jiwa dan raga di dunia fisik, tanpa gangguan media
sosial atau sejenisnya. Meski hanya terdiri dari dua bab besar, buku Going
Offline memuat banyak subbab sesuai tema yang relevan.
Tema yang diangkat pun bisa dibilang sederhana, tapi bermakna.
Berusaha menjadi “offline” di dunia yang penuh dengan hal-hal “online”
ini bisa dimulai dengan hal yang sederhana, seperti mendengarkan orang lain
dengan baik, menyibukkan diri dengan buku, berjalan kaki, melakukan aktivitas
kreatif, menjalin percakapan secara langsung, dan berbagai hal lainnya. Itulah
sedikit yang dikatakan buku Going Offline.
Buku ini juga dilengkapi dengan kutipan kata-kata dari beberapa
tokoh ternama, yang mana bisa menjadi pengingat atau motivasi bagi para pembaca.
Meski demikian, pengingat-pengingat tersebut tidak akan menjadi apa-apa jika
kita sendiri tidak bergerak untuk menerapkan isinya. Karena sejatinya, perubahan
tetap berada di tangan kita sebagai pembaca.
Baca Juga: Hello Habits - Cara Membentuk Kebiasaan Baik ala Fumio Sasaki
Beberapa Quotes dalam Going Offline karya Desi Anwar
Ada dua tipe orang saat membaca buku. Pertama, mereka yang selalu
membuat bukunya tetap bersih dan rapi tanpa coretan atau lipatan. Kedua, mereka
yang tidak bisa lepas dari coretan-coretan pena penyorot di setiap lembar
yang telah dibaca.
![]() |
| My bookstagram @itsmesun.again (pic: koleksi pribadi) |
Saya adalah tipe kedua. Buku Going Offline yang telah saya selesaikan memiliki banyak tanda stabilo sebagai pengingat bagian penting: quotes, informasi baru, atau lainnya. Meski hanya sebagian kecil yang saya tandai dari keseluruhan isi buku, saya tetap tidak bisa membagikan semuanya di sini. Namun, beberapa quotes dari buku Going Offline yang saya temukan itu mungkin bisa sedikit mewakili.
- Mendengarkan dengan sepenuh perhatian adalah anugerah yang kau tebarkan bagi orang-orang di sekitarmu. (h.4)
- Masa depanmu dibangun dari apa yang engkau lakukan sekarang, bukan esok. H. 73
- Kita menjadi apa yang kita lakukan berulang-ulang. Sukses itu bukanlah tindakan, melainkan kebiasaan. (h.98)
- Hadapi ketakutan-ketakutanmu dan semuanya tidak akan lagi menakutkanmu. (h.119)
- Mungkin kita bisa saja punya mimpi, tetapi tidak punya motivasi, strategi, dan disiplin untuk melakukannya. Bila demikian, kita akan terombang-ambing tanpa tujuan sampai mencapai suatu titik di posisi yang membuat kita tidak bahagia dan mulai bertanya-tanya mengapa pula kita sampai di sana. Seperti membangun sebuah kota—yang melibatkan banyak perencanaan termasuk merubuhkan bangunan dan menggantinya dengan yang lain—menuntut perkembangan dan perbaikan yang tiada habisnya, begitu pula diri kita. (h.129)
- Tumbuhkan hasrat untuk belajar. Dengan demikian, engkau tidak akan berhenti tumbuh. Anthony J. D’Angelo. (h. 178)
Kutipan-kutipan itu mungkin akan memiliki makna yang berbeda bagi setiap
orangnya. Bagi saya, penggalan kata tersebut terasa dekat dengan pengalaman hidup yang saya jalani. Namun, hal itu bisa saja berbeda bagi orang lain. Jadi, mari
kita mulai mencari makna berharga itu dalam perjalanan kita masing-masing.
Terima kasih telah membaca, see you in the next
chapter!


0 Comments